{"id":131,"date":"2026-02-10T17:40:49","date_gmt":"2026-02-10T17:40:49","guid":{"rendered":"https:\/\/hypnowrite.com\/?p=131"},"modified":"2026-02-10T17:40:53","modified_gmt":"2026-02-10T17:40:53","slug":"gaji-naik-tapi-tetap-bokek-penyebab-dan-solusi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/hypnowrite.com\/id\/gaji-naik-tapi-tetap-bokek-penyebab-dan-solusi\/","title":{"rendered":"Gaji Naik Tapi Tetap Bokek? Ini Penyebabnya"},"content":{"rendered":"\n<p><strong><a href=\"https:\/\/hypnowrite.com\/dana-darurat-untuk-anak-muda-berapa-idealnya\/\">Hypnowrite <\/a><\/strong>&#8211; Pernah ngerasa gini nggak?<\/p>\n\n\n\n<p>Gaji naik, jabatan ikut meningkat, dan penghasilan kini lebih besar dibanding tahun lalu. Secara logika, kondisi finansial seharusnya ikut membaik. Harusnya lebih lega, lebih aman, dan lebih stabil. Namun kenyataannya sering berbeda. Meski angka di slip gaji bertambah, rasa tenang itu tidak benar-benar datang. Rutinitas tetap sama: menghitung sisa saldo menjelang akhir bulan dan berharap masih cukup sampai tanggal gajian berikutnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Anehnya, tabungan tidak bertambah signifikan, bahkan kadang terasa stagnan di angka yang itu-itu saja. Bukannya semakin kuat secara finansial, justru masih muncul perasaan kurang dan cemas setiap kali ada pengeluaran tak terduga. Situasi ini membuat banyak orang bertanya-tanya, ke mana sebenarnya tambahan penghasilan itu pergi? Karena meskipun pendapatan naik, kondisi keuangan terasa seperti berjalan di tempat.<\/p>\n\n\n\n<p>Kalimat <strong><a href=\"https:\/\/www.ruangmenyala.com\/article\/read\/gaji-naik-tapi-tetap-bokek-jangan-lakukan-5-kesalahan-ini\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">\u201cgaji naik tapi tetap bokek\u201d<\/a><\/strong> bukan sekadar candaan di tongkrongan. Ini realita yang dialami banyak anak muda, terutama yang tinggal di kota besar dengan gaya hidup urban yang dinamis.<\/p>\n\n\n\n<p>Masalahnya sering kali bukan terletak pada besar kecilnya penghasilan, melainkan pada bagaimana uang tersebut dikelola dan keputusan-keputusan finansial apa yang diambil setelah gaji masuk. Banyak orang fokus mengejar kenaikan income, tetapi kurang memberi perhatian pada sistem pengelolaan uang yang sehat. Di saat yang sama, gaya hidup perlahan ikut berubah tanpa disadari\u2014frekuensi nongkrong meningkat, pilihan tempat makan naik kelas, kebiasaan belanja jadi lebih impulsif, dan standar kenyamanan terus bertambah. Tanpa kontrol dan kesadaran, kenaikan penghasilan hanya akan diikuti kenaikan pengeluaran, sehingga kondisi finansial tetap terasa stagnan meskipun angka gaji terlihat lebih besar dari sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Artikel ini akan membahas secara lengkap kenapa gaji naik tetap terasa kurang, apa saja penyebab utamanya, dan bagaimana cara keluar dari siklus tersebut secara realistis.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"Gaji Naik Tapi Tetap Bokek? 5 Pola Pikir Halus yang Bikin Dompet Bocor\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/hA8ghN2K8oU?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe>\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p><strong>1. Lifestyle Inflation: Musuh Diam-Diam yang Jarang Disadari<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu penyebab utama kenapa gaji naik tapi tetap tidak punya tabungan adalah lifestyle inflation.<\/p>\n\n\n\n<p>Lifestyle inflation adalah kondisi ketika standar hidup seseorang ikut meningkat seiring dengan kenaikan penghasilan, sehingga setiap tambahan gaji tidak benar-benar memperbaiki kondisi finansial secara signifikan. Saat penghasilan bertambah, muncul dorongan untuk meningkatkan kualitas gaya hidup\u2014mulai dari tempat tinggal yang lebih nyaman, pilihan nongkrong yang lebih mahal, hingga kebiasaan belanja yang lebih sering. Tanpa disadari, pengeluaran pun ikut naik, bahkan dalam banyak kasus lebih cepat daripada kenaikan gaji itu sendiri. Akibatnya, meskipun pendapatan terlihat lebih besar di atas kertas, ruang untuk menabung atau berinvestasi tetap sempit karena hampir seluruh kenaikan tersebut terserap oleh peningkatan gaya hidup.<\/p>\n\n\n\n<p>Contohnya sederhana:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Dulu naik motor \u2192 sekarang cicil mobil<\/li>\n\n\n\n<li>Dulu ngopi sesekali \u2192 sekarang hampir tiap hari<\/li>\n\n\n\n<li>Dulu pakai HP sampai rusak \u2192 sekarang upgrade tiap ada seri baru<\/li>\n\n\n\n<li>Dulu kos biasa \u2192 sekarang pindah ke apartemen lebih premium<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Semua terlihat wajar. Bahkan terasa seperti \u201creward atas kerja keras\u201d. Masalahnya muncul ketika kenaikan gaya hidup itu menyedot seluruh tambahan penghasilan.<\/p>\n\n\n\n<p>Alih-alih saving rate naik, justru pengeluaran yang bertambah.<\/p>\n\n\n\n<p>Tanpa disadari, kamu tetap berada di level finansial yang sama \u2014 hanya dengan standar hidup yang lebih mahal.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p><strong>2. Tidak Punya Sistem Keuangan yang Jelas<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Banyak orang mengatur uang berdasarkan perasaan, bukan sistem.<\/p>\n\n\n\n<p>Selama saldo masih terlihat aman, dianggap semuanya baik-baik saja. Padahal tanpa pembagian yang jelas, uang sangat mudah habis sebelum akhir bulan.<\/p>\n\n\n\n<p>Gaji masuk \u2192 bayar kebutuhan \u2192 sisanya dipakai bebas.<br>Kalau ada sisa, baru ditabung.<\/p>\n\n\n\n<p>Masalahnya, \u201ckalau ada sisa\u201d hampir tidak pernah benar-benar terjadi.<\/p>\n\n\n\n<p>Tanpa sistem, kenaikan gaji hanya memperbesar ruang konsumsi, bukan memperkuat fondasi finansial.<\/p>\n\n\n\n<p>Coba bandingkan dengan sistem sederhana seperti:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>50% kebutuhan pokok<\/li>\n\n\n\n<li>30% gaya hidup<\/li>\n\n\n\n<li>20% tabungan &amp; investasi<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Atau sistem lain seperti:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Fixed cost<\/li>\n\n\n\n<li>Saving<\/li>\n\n\n\n<li>Lifestyle<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Kuncinya bukan di rumusnya. Tapi di konsistensi pembagiannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika setiap kenaikan gaji langsung diikuti kenaikan porsi tabungan, kondisi finansial akan berubah signifikan dalam beberapa tahun.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p><strong>3. Tekanan Sosial &amp; Media Sosial yang Tak Terlihat<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Generasi sekarang hidup di era yang sangat berbeda dibanding generasi sebelumnya, terutama bagi mereka yang tinggal di kota besar dengan ritme hidup yang cepat dan biaya hidup yang terus meningkat. Harga sewa tempat tinggal, transportasi, makanan, hingga gaya hidup urban membuat kebutuhan bulanan terasa semakin berat, sementara di sisi lain tekanan sosial untuk terlihat sukses juga semakin kuat. Ditambah lagi dengan paparan media sosial yang konstan setiap hari, di mana pencapaian, gaya hidup, dan standar \u201ckehidupan ideal\u201d terus ditampilkan tanpa henti, banyak anak muda akhirnya merasa harus mengejar lebih banyak dalam waktu lebih cepat, meski kondisi finansial belum tentu benar-benar siap.<\/p>\n\n\n\n<p>Media sosial membuat pencapaian pribadi orang lain terasa seperti standar umum yang seolah-olah harus dicapai semua orang dalam waktu yang sama. Setiap hari kita disuguhi unggahan tentang teman yang membeli rumah, liburan ke luar negeri, mengganti mobil baru, atau mendapatkan promosi jabatan, dan semuanya tampak terjadi dengan cepat serta tanpa hambatan berarti. Karena yang terlihat hanya momen puncaknya, proses panjang, pengorbanan, bahkan tekanan di balik layar jarang ikut ditampilkan. Akibatnya, tanpa sadar kita mulai membandingkan perjalanan sendiri dengan highlight hidup orang lain, lalu merasa tertinggal meskipun sebenarnya sedang berjalan sesuai ritme masing-masing.<\/p>\n\n\n\n<p>Padahal kita tidak pernah tahu kondisi finansial sebenarnya. Bisa jadi ada cicilan kartu kredit, paylater, atau tabungan yang sebenarnya minim.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun otak kita tidak memproses konteks itu. Yang terlihat hanya hasil akhirnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Akhirnya muncul tekanan tidak langsung:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Harus terlihat sukses<\/li>\n\n\n\n<li>Harus update<\/li>\n\n\n\n<li>Harus ikut tren<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Nongkrong bisa jadi networking. Outfit bisa jadi identitas. Liburan bisa jadi konten. Semua terasa penting.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika tidak disadari, keputusan finansial lebih dipengaruhi tekanan sosial daripada kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p><strong>4. Cicilan &amp; Paylater: Kebocoran Cashflow Modern<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Gaji naik sering kali diikuti dengan naiknya limit kredit.<\/p>\n\n\n\n<p>Bank menawarkan kartu kredit dengan limit lebih besar. Aplikasi menawarkan paylater dengan cicilan ringan. Semua terasa terjangkau karena \u201chanya\u201d sekian ratus ribu per bulan.<\/p>\n\n\n\n<p>Masalahnya bukan pada satu cicilan.<\/p>\n\n\n\n<p>Masalahnya adalah ketika cicilan kecil itu bertumpuk.<\/p>\n\n\n\n<p>HP baru cicil.<br>Furniture cicil.<br>Liburan pakai paylater.<br>Belanja online pakai kartu kredit.<\/p>\n\n\n\n<p>Secara individu terasa ringan. Tapi ketika dijumlahkan, beban bulanan membengkak.<\/p>\n\n\n\n<p>Inilah kenapa banyak orang dengan gaji tinggi tetap merasa tertekan secara finansial. Cashflow mereka habis untuk komitmen masa lalu.<\/p>\n\n\n\n<p>Tanpa kontrol, kenaikan gaji hanya memperbesar kemampuan berutang \u2014 bukan memperbesar aset.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p><strong>5. Tidak Meningkatkan Literasi Finansial<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Banyak anak muda fokus meningkatkan skill kerja agar gaji naik. Itu bagus.<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi sering lupa meningkatkan skill mengelola uang.<\/p>\n\n\n\n<p>Income naik.<br>Financial knowledge tetap sama.<\/p>\n\n\n\n<p>Padahal menghasilkan uang dan mengelola uang adalah dua skill yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n<p>Kita belajar kerja keras, tapi jarang belajar:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>cara mengatur cashflow<\/li>\n\n\n\n<li>cara membangun dana darurat<\/li>\n\n\n\n<li>cara menghindari lifestyle inflation<\/li>\n\n\n\n<li>cara investasi dasar<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Akibatnya, setiap kenaikan gaji hanya memperbesar angka pemasukan, bukan memperbesar kekayaan bersih.<\/p>\n\n\n\n<p>Income \u2260 wealth.<\/p>\n\n\n\n<p>Wealth dibangun dari selisih antara penghasilan dan pengeluaran, lalu dikembangkan secara konsisten.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p><strong>6. Terjebak Standar \u201cHarus Terlihat Mapan\u201d<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu tekanan terbesar dalam urban lifestyle adalah standar \u201charus sukses sebelum 30\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Rumah sendiri.<br>Mobil pribadi.<br>Karier mapan.<br>Liburan rutin.<\/p>\n\n\n\n<p>Padahal setiap orang punya timeline berbeda.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika standar sosial dijadikan patokan pribadi, pengeluaran sering dipaksa menyesuaikan ekspektasi, bukan kemampuan.<\/p>\n\n\n\n<p>Akhirnya muncul fenomena:<br>Terlihat mapan, tapi rapuh secara finansial.<\/p>\n\n\n\n<p>Padahal stabilitas bukan tentang terlihat sukses. Tapi tentang punya kontrol atas keuangan sendiri.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p><strong>7. Gaji Naik Tapi Saving Rate Tidak Ikut Naik<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Ini poin paling penting.<\/p>\n\n\n\n<p>Masalah sebenarnya bukan pada pengeluaran yang naik. Masalahnya adalah saving rate yang stagnan.<\/p>\n\n\n\n<p>Misalnya:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Gaji 5 juta \u2192 tabungan 500 ribu<\/li>\n\n\n\n<li>Gaji naik jadi 8 juta \u2192 tabungan tetap 500 ribu<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Artinya, standar hidup menyerap seluruh kenaikan gaji.<\/p>\n\n\n\n<p>Idealnya, ketika penghasilan naik, minimal 30\u201350% kenaikan itu masuk ke tabungan atau investasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Contoh:<br>Gaji naik 3 juta \u2192<br>1,5 juta masuk saving\/investasi<br>1,5 juta boleh meningkatkan kualitas hidup<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan cara ini, kamu tetap menikmati hasil kerja keras tanpa mengorbankan masa depan.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p><strong>Cara Keluar dari Siklus \u201cGaji Naik Tapi Tetap Bokek\u201d<\/strong><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/hypnowrite.com\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/ChatGPT-Image-Feb-11-2026-12_05_35-AM.png\" alt=\"GAJI NAIK TAPI TETAP BOKEK\" class=\"wp-image-133\" srcset=\"https:\/\/hypnowrite.com\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/ChatGPT-Image-Feb-11-2026-12_05_35-AM.png 1024w, https:\/\/hypnowrite.com\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/ChatGPT-Image-Feb-11-2026-12_05_35-AM-300x300.png 300w, https:\/\/hypnowrite.com\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/ChatGPT-Image-Feb-11-2026-12_05_35-AM-150x150.png 150w, https:\/\/hypnowrite.com\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/ChatGPT-Image-Feb-11-2026-12_05_35-AM-768x768.png 768w, https:\/\/hypnowrite.com\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/ChatGPT-Image-Feb-11-2026-12_05_35-AM-12x12.png 12w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Sekarang bagian paling penting: solusi realistis.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>1. Audit Gaya Hidup<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Lihat 3 bulan terakhir pengeluaran.<\/p>\n\n\n\n<p>Tanya ke diri sendiri:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Mana kebutuhan?<\/li>\n\n\n\n<li>Mana keinginan?<\/li>\n\n\n\n<li>Mana karena tekanan sosial?<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Tanpa kesadaran, perubahan tidak akan terjadi.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p><strong>2. Naikkan Saving Rate Setiap Gaji Naik<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Buat aturan pribadi:<\/p>\n\n\n\n<p>Setiap kenaikan gaji = minimal 30% langsung masuk tabungan atau investasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Jangan tunggu sisa.<\/p>\n\n\n\n<p>Langsung alokasikan di awal.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p><strong>3. Pisahkan Rekening<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Minimal punya:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Rekening kebutuhan<\/li>\n\n\n\n<li>Rekening tabungan<\/li>\n\n\n\n<li>Rekening lifestyle<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Uang yang tidak terlihat cenderung tidak terpakai.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p><strong>4. Batasi Cicilan Maksimal 30% dari Penghasilan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Jika cicilan sudah di atas 30%, ruang gerak finansial akan sempit.<\/p>\n\n\n\n<p>Prioritaskan melunasi utang konsumtif sebelum menambah komitmen baru.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p><strong>5. Bangun Dana Darurat Dulu<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sebelum investasi agresif, pastikan punya dana darurat minimal 3\u20136 bulan pengeluaran.<\/p>\n\n\n\n<p>Tanpa dana darurat, setiap masalah kecil bisa mengacaukan sistem keuangan.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p><strong>Redefinisi Sukses: Stabil Lebih Penting dari Terlihat Kaya<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pada akhirnya, sukses bukan tentang siapa yang paling cepat terlihat mapan.<\/p>\n\n\n\n<p>Sukses adalah tentang siapa yang paling konsisten membangun fondasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Gaji besar tanpa kontrol tetap membuat stres.<br>Gaji sedang dengan sistem yang baik bisa menciptakan ketenangan.<\/p>\n\n\n\n<p>Stabilitas finansial memberi kebebasan:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Bebas memilih pekerjaan<\/li>\n\n\n\n<li>Bebas mengambil risiko sehat<\/li>\n\n\n\n<li>Bebas dari kecemasan berlebihan<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Itu jauh lebih berharga daripada sekadar terlihat sukses di media sosial.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p><strong>Kesimpulan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Gaji naik tapi tetap bokek bukan karena kamu kurang bekerja keras. Sering kali penyebabnya adalah kombinasi dari lifestyle inflation, tekanan sosial, cicilan berlebihan, dan tidak adanya sistem keuangan yang jelas.<\/p>\n\n\n\n<p>Kabar baiknya?<\/p>\n\n\n\n<p>Semua itu bisa diperbaiki.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan kesadaran, sistem yang sederhana, dan konsistensi kecil setiap bulan, kondisi finansial bisa berubah drastis dalam beberapa tahun.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena pada akhirnya, kekayaan bukan dibangun dari seberapa besar gaji naik, tapi dari seberapa bijak kamu mengelolanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan stabilitas selalu lebih kuat daripada sekadar terlihat mapan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hypnowrite &#8211; Pernah ngerasa gini nggak? Gaji naik, jabatan ikut meningkat, dan penghasilan kini lebih besar dibanding tahun lalu. Secara logika, kondisi finansial seharusnya ikut membaik. Harusnya lebih lega, lebih aman, dan lebih stabil. Namun kenyataannya sering berbeda. Meski angka di slip gaji bertambah, rasa tenang itu tidak benar-benar datang. Rutinitas tetap sama: menghitung sisa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":134,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[13,14],"tags":[56,19,57,55,17,47,29,27,30,20,18],"class_list":["post-131","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-urban-lifestyle","category-finansial-anak-muda","tag-cara-mengatur-gaji-agar-tidak-habis","tag-finansial-anak-muda","tag-finansial-gen-z","tag-gaji-naik-tapi-tetap-bokek","tag-gen-z","tag-keuangan-anak-muda","tag-literasi-finansial-anak-muda","tag-mindset-uang-gen-z","tag-personal-growth","tag-quarter-life-crisis","tag-urban-lifestyle"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/hypnowrite.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/131","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/hypnowrite.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/hypnowrite.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hypnowrite.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hypnowrite.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=131"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/hypnowrite.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/131\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":136,"href":"https:\/\/hypnowrite.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/131\/revisions\/136"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hypnowrite.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/134"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/hypnowrite.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=131"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/hypnowrite.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=131"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/hypnowrite.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=131"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}